Ego Defense & Emotional Regulation

Kenapa Kita Bisa Memuja Seseorang Setinggi Langit Lalu Membencinya Setengah Mati? Memahami Splitting & BPD Defense

Pernahkah kamu menganggap pasangan atau sahabat sebagai malaikat penolong, lalu dalam satu jam berubah membencinya karena chat singkat? Pelajari mekanisme psikologis 'Splitting'.

17 September 2026 8 min read Bahasa Indonesia

Pagi hari, kamu merasa pasanganmu adalah manusia terbaik di dunia. Kamu bersyukur karena akhirnya menemukan belahan jiwa yang mengerti seluruh luka masa lalumu. Tapi sore harinya, ketika dia lupa mengabarimu karena tertidur lelah, dadamu terasa sesak terbakar amarah. Di kepalamu langsung muncul vonis mutlak: *'Ternyata dia sama saja seperti mantanku. Pembohong, tidak peduli, manipulatif. Aku harus putusin dia sekarang juga.'*

Perubahan drastis dari memuja setinggi langit (*idealization*) menjadi memandang rendah dan jijik (*devaluation*) dalam hitungan jam bukanlah tanda kamu jahat atau gila. Dalam psikologi klinis, kondisi ini dinamakan **Splitting** (polarisasi hitam-putih).

Data Nuju Indonesia: Dari 45.000 jurnal curhat anak muda urban Jakarta dan kota besar, 78% menyatakan sering mengalami 'whiplash emosi'-merasa relasi mereka sempurna 100% atau hancur lebur 0%, tanpa pernah bisa melihat area abu-abu di tengahnya.

Akar Trauma: Mengapa Otak Menolak Area Abu-Abu?

Otto Kernberg, psikoanalis terkemuka, menjelaskan bahwa splitting adalah mekanisme pertahanan ego yang sangat primitif. Saat seseorang tumbuh dalam keluarga yang tidak konsisten-misalnya orang tua yang kadang sangat manis tapi tiba-tiba meledak memukul atau membentak tanpa peringatan-otak anak belajar bahwa ambigu itu bahaya.

Melihat orang sebagai 'separuh baik dan separuh menyebalkan' terasa terlalu mencemaskan bagi sistem saraf yang trauma. Jauh lebih aman membelah dunia jadi dua kubu absolut: **Malaikat yang Menyelamatkan** vs **Monster yang Harus Dihindari**.

Bahaya Splitting pada Diri Sendiri

Splitting tidak hanya diarahkan ke orang lain, tapi juga ke diri sendiri. Kamu mungkin menganggap dirimu jenius luar biasa saat berhasil menyelesaikan proyek kantor, tetapi ketika presentasimu mendapat kritik konstruktif dari bos, kamu langsung merasa menjadi orang paling dungu dan memalukan di dunia.

Latihan 'Dan' (Dialektika DBT) untuk Menyatukan Pikiran

Dr. Marsha Linehan, penemu Dialectical Behavior Therapy (DBT), mengajarkan formula penyelamat yang disebut prinsip *'Both/And'* (Kedua-duanya Benar). Ganti kata sambung *'Tetapi'* dengan kata *'Dan'* saat kamu mulai tergelincir ke kutub ekstrem:

  • Bukan: 'Dia telat balas chat, berarti dia nggak sayang aku sama sekali.'
  • Melainkan: 'Aku merasa kecewa dan cemas karena dia telat balas chat, DAN dia adalah pasangan yang selalu menemaniku saat aku sakit minggu lalu.'
  • Bukan: 'Proyek ini ada revisi, berarti aku gagal total.'
  • Melainkan: 'Ada beberapa kesalahan dalam laporanku yang perlu diperbaiki, DAN kerja kerasku selama dua bulan ini tetap bernilai dan kompeten.'
Langkah Mandiri: Saat emosimu meledak ingin memutuskan kontak atau memaki seseorang, tahan dirimu selama 24 jam. Jangan kirim pesan apa pun saat berada di fase devaluasi akut. Tuliskan atau rekam suaramu di voice journal pribadi untuk mendekompresi amigdala.

Mulai entry jurnal pertamamu hari ini

Nuju cuma butuh 30 detik sehari. Pilih mood, tulis satu kalimat, lalu mulai lihat pola emosimu dengan lebih jelas.

Mulai journaling gratis

Baca juga